When You Realize It’s Over

Dulu pertama kali nonton film Harry Potter Sorcerer’s Stone di rumah bareng almarhum kakak. Makanya setiap nonton film ini aku selalu inget sama beliau. Terlepas dari itu memang film ini bisa dibilang film anak-anak internasional yang paling mewarnai generasiku (90’an).

Dari novelnya juga keren, Joanne Kathleen Rowling membungkus cerita ini dengan fantasi yang kebanyakan anak-anak pasti tertarik. Latar Inggris sebagai negeri dongeng bener-bener dimunculin di sini. Sempet juga baca novel versi english UK. Bahasanya keren, original banget.

Terus novel ini difilmkan dengan luar biasa. Setting, point of view, latar musik, pemeran, semua bisa dibilang keren sih.

Waktu lihat scene yang diambil dari Harry Potter and The Deathly Hallows part II ini, aku udah di tahun terakhir SMA. Jadi nyadar kalau sekarang udah bukan anak kecil lagi. Udah ga mungkin dapet official invitation letter dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. 😀 Dan yang seumuran denganku pasti mulai tersadar bahwa masa kecil kita sudah habis. It’s over, guys. Sudah saatnya berpikir dan bertindak dewasa. Sudah harus beranjak untuk merajut mimpi dan masa depan jika tidak ingin ketinggalan. 🙂

Di scene ini ada percakapan antara Harry dan anaknya, Albus Severus Potter. Seriously I love ‘Dad and son’ conversation.:)

Albus Severus Potter : Dad, what if I am put in Slytherin?
Harry Potter  : Albus Severus Potter, you were named after two headmasters of Hogwarts. One of them was a Slytherin and he was the bravest man I’d ever known.

Albus Severus Potter : But just say that I am.
Harry Potter : Then Slytherin House will have gained a wonderful young wizard. But listen, if it really means that much to you, you can choose Gryffindor. The Sorting Hat takes your choice into account.

Albus Severus Potter : Really?
Harry Potter : Really.
Harry Potter  : Ready?
Albus Severus Potter : Ready.

Well, pilihanlah yang menentukan kualitas kita.
“You choose then you have to decide to fight for your choice. Bravely!”