Malaysia Day 1 : Arrival

Setelah mengalami perjalanan udara hampir 3 jam, akhirnya berhasil mendarat dengan ganteng di Bandara Senai, Johor Bahru, Malaysia. Alhamdulillah…

Oke, insyaAllah selama sekitar sebulan ini aku dan 11 temenku bakalan menjalani salah satu program baru dari kampusku yaitu mengajar di luar negeri. Sebenernya program akan menjadi tolok ukur juga mengenai ASEAN Economics Community tahun 2015 mendatang. Dan kebetulan kesempatan kali ini kami dapet kesempatan buat belajar sekaligus mengamalkan ilmu kami di Malaysia. But wait! ini bukan TKI lho ya ! Jadi ga bakalan ada isu kami ngebunuh majikan atau menculik dan menjual anak majikan. Haha

Kampus yang aku tempetin saat ini ada di Batu Pajang, JB. Namanya UTHM. Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. Kampusnya guede banget. Ga tahu berapa hektarnya. Pokoknya, kalau kalian kesini dan nyoba buat jalan dari ujung ke ujung, aku jamin, kaki bakalan teriak-teriak minta ampun.

Jadi gini, selama hampir sebulan ini kami bakalan mengajar di Vocational College di JB, yang sudah bekerja sama langsung dengan pihak UTHM. Untuk masalah teknis awalnya bakalan dijelasin lengkap besok di Upacara Penyambutan. Hari ini kami hanya diajak makan dan di-drop di Kediaman (dormitory/asrama) masing-masing.

Jarak dari Bandara Senai ke kampus UTHM lumayan jauh juga. 1 jam. Itupun kita ngelewati highway yang bener-bener sepi. Ga kayak jalan tol di Indonesia. Kanan kiri cuma perkebunan Kelapa Sawit. Dari atas pun, sejauh mata memandang cuma kelihatan perkebunan oil palm tree. Beda dengan saat lewat Singapore yang kelihatan kayak miniatur gedung-gedung tinggi. Ya, aku tahu. Itu bukan miniatur, itu gedung beneran. Soalnya awal tahun kemarin, aku tersesat dengan keren waktu muter-muter di situ.

Setelah nyampe di UTHM, pertama lihat kaget dengan luasnya kampus ini. Di kanan kiri kampus masih di kelilingi perkebunan kelapa sawit. Luas banget. Ga kebayang, gimana kalau ilang ditengah-tengahnya. Hem…

Suasana di UTHM, mirip suasana pesantren gitu. Asrama putra sama putrinya di pisah jauh. Pake banget. Kalau jalan kaki sekitaran 15-20 menit. Kata salah satu temen kenalan di sini sih, hampir semua sekolah dan perguruan tinggi di Malaysia kayak gini.

Dari beberapa kampus di luar negeri yang pernah aku datengin, semuanya ada dormitory-nya (ada yang semua mahasiswa stay di dorm, ada yang hanya First Year Student aja). Suasana di kampusnya juga enak banget buat belajar. Dari fasilitas sport center, gedung-gedung perkuliahan, dll, semuanya ngedukung banget buat mahasiswanya belajar. Beda banget dengan kondisi di Indonesia yang cuma beberapa kampus aja yang punya dormitory dan luas area kampus yang besar. Satu lagi ironi bangsa kita. Pendidikan di nomer sekiankan.

Balik ke kegiatan kita hari ini. Setelah nurunin temen-temen yang putri, kita diantar ke asrama putra. Naik bus cuma 3 menit. Di Tun Syed Nasir Residential College. Tempatnya ga bisa di bilang bagus, tapi juga ga bisa di bilang juga sih. Lumayan lah. Sebenernya lebih mirip sama kamar di pondok pesantren.

Malem itu, kami sepakat untuk mengadakan meeting di guest house tempat dosen pembimbing kami tinggal. Deket asrama tempat temen-temen putri, Tun Doctor Ismail Residential College. Atau lebih di kenal dengan TDI (english pronounce: ti di ai) sama anak-anak kampus di sini. Kayak yang aku bilang tadi, lumayan jauh. Jalan kaki 20 menit.

Setelah sampai di guest house tempat dosen kami tinggal, kami menyadari realita bahwa tempatnya jauh lebih nyaman dari dorm putra. Ditambah ada 2 kamar di guest house ini yang tidak terpakai. Akhirnya kami sepakat untuk kembali ke Tun Syed Nasir mengambil barang bawaan kami. Jadilah malam itu kami jalan 30 menitan dengan bawa barang bawaan berat untuk bertahan hidup sebulan di Malaysia. Dengan muka ngantuk dan capek. Huft banget.

Alhamdulillah, ada purnama yang keren banget di langit timur. Bisa sedikit menjadi penghibur malam yang melelahkan ini. Masya Allah…

Di guest house yang cukup nyaman ini, kami segera membahas beberapa hal yang sebenarnya diluar dugaan kami. Seperti: Vocational College yang kami tempati jaraknya berjauhan antara 1-2 jam dari UTHM!!, di dorm UTHM tidak ada dapur untuk mahasiswa, transportasi selama kami di sini, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Untuk kemudian dibicarakan lebih lanjut besok saat penjelasan teknis oleh pihak UTHM.

Overall hari pertama ini capek banget. Bener-bener butuh istirahat. Ditambah sepertinya semua anggota tim merasakan satu hal yang sama: khawatir. Khawatir dengan kemungkinan dan ketidakmungkinan selama hampir sebulan kami disini.

Well, semoga semuanya lancar dan berkah. Mohon doanya juga guys. Mau langsung istirahat. InsyaAllah bakalan aku posting besok sama foto-fotonya. Selamat Malam ! 🙂

 

Advertisements

Last Entry Before Malaysia

Beh, tiba-tiba udah mau tanggal 10 Agustus aja. Itu artinya sekarang aku harus siap-siap packing segala macem buat flight ke Malaysia. Well, sampe detik aku nulis ini aku belum ngapa-ngapain. Huahaha.

Jadi, acara kali ini sebenernya bukan main, tapi PPL. Semacam ngajar gitu. Karena kampusku universitas pendidikan. Jadi ngewajibin setiap mahasiswa-nya disamping KKN juga harus PPL dimana kita ditempatkan di sebuah sekolah yang sudah ditentukan dan kita disitu ngajar seperti guru-guru pada umumnya. Umumnya sih, di daerah Jogja dan sekitarnya aja. Cuma tahun ini, ada gebrakan dari kampusku yaitu kerjasama dengan salah satu universitas di Malaysia. Namanya UTHM, Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. Sebuah universitas ternama Malaysia yang ada di Johor.

malaysia-indonesia-bendera

Ternyata, ini program pertama dari kampusku buat ngadain acara semacam gini. Ya, semoga aja lancar dan bisa lebih dikembangkan nantinya. By the wau, karena ini bukan sekedar jalan-jalan, jadi tentang itinerary untuk satu bulan kedepan sudah diatur dari pihak UTHM. Ya tapi semoga aja jadwalnya ga begitu padet, dan ada waktu yang banyak buat main. Heheu.

Hmm, kayaknya gini dulu aja. Belum nyiapin apapun. Semoga bisa ter-cover kebutuhan-kebutuhan yang harus dibawa. InsyaAllah flight besok siang di Adisutjipto International Airport. Check-in jam 12.00. Sip, mohon doanya ya teman 🙂

Camera is a Must!

Kemarin tanggal 2 Agustus 2013 ada agenda yang sudah terencana. Hunting sunrise di Borobudur. Sebenernya udah pengen hunting sunrise di Borobudur ini sejak dulu. Setelah baca di majalah TIMES. Ada judul “10 Views You Have To See Before You Die”, dan salah satunya adalah sunrise Borobudur. Wow!

Karena tidak ingin jadi  wacana saja, aku tanya-tanya sama temen asli Magelang. Dan tertanya dia tahu beberapa spot buat lihat sunrise. Dia tahu jalan menuju lokasi ke Bukit Menoreh. Katanya, pemandangannya emang bagus, dia nyritainnya, kita bisa lihat matahari terbit pas diatas Candi Borobudur dan diantara 2 gunung besar di timur Magelang, Merapi dan Merbabu. Ngebayanginnya aja udah bikin mupeng. 😀

Ada dua lokasi yang sudah aku rencanakan. Di pelataran Borobudur dan di daerah Bukit Menoreh. Lokasi yang pertama ada kendala karena masalah izin. Jam segitu Borobudur belum dibuka untuk umum. Kata seorang teman yang tinggal di dekat Borobudur, kita harus pesan dulu beberapa hari sebelumnya jika ingin menikmati sunrise di dalam candi. Jadi kemungkinan di Bukit Menoreh.

Semua sudah terencana, jam keberangkatan, waktu sahur, dll. Tapi satu masalah yang cukup vital, kamera. Aku lupa bawa camera DSLR. Oh, can be…

No pict means hoax. Ya, memang jika tidak ada bukti foto, tidak ada yang percaya bahwa kita pernah kesitu. Dan bagiku, foto itu penting banget. Kalau ga ada foto rasanya kayak kita belum bener-bener kesitu.

Penyesalan datang pas tadi pagi lihat koran Tribun Jogja tanggal 4 Agustus di tumpukan koran di rumah. Emang sih, udah kadaluarsa, tapi kadang kalau pas lagi selo aku suka baca-baca gitu. Anything to kill selo.

Di bagian halaman Magelang Square ada foto gede banget. Foto pemandangan sunrise di Borobudur. Persis seperti yang diceritakan temenku yang asli Magelang. Siluet indah khas sunrise, Candi Borobudur yang seperti teratai di atas kabut, dan sebuah segitiga kuning keemasan diantara Merapi dan Merbabu, bagaikan matahari terbit di kahyangan. Padahal juga ga tau kahyangan kayak gimana. Tapi MasyaAllah, luar biasa!

Haduuh, menyesal banget kemarin waktu masih di Magelang ga bawa kamera. Lebih nyesel lagi kenapa ga kesana aja, besok-besok lagi kesitu bawa kamera. Oh God, why….

Pantaslah jadi pemandangan yang harus kita lihat sebelum kita mati. Pantas temenku waktu itu menceritakannya dengan penuh semangat, yang kukira itu hanya hiperbol saja, ternyata tidak. -__-

Dari Bukit Menoreh
Dari Bukit Menoreh

Sayang, foto ini bukan aku yang ambil. Karena belum jadi kesana. Ini cuma ambil dari internet. Sebenarnya lebih keren gambar yang ada di koran Tribun Jogja (dari gambar di bawah ini juga lebih keren yang di koran), lebih persis dengan gambaran yang aku ceritain di atas. Cahaya kuning keemasan yang membelah langit biru, bak permadani sang matahari…

BOROBUDUR-SUNRISE

Kurang lebih gambarannya seperti ini kalau di lihat dari pelataran Candi Borobudur. Lain kali, ga bawa kamera ga papa, masih ada kamera bawaan manusia, mata. Iya, tapi sakjane masih nyesel ga bawa kamera. Doh…

Semoga ada waktu, semoga jadi terlaksana. Aamiin.